KedaiTeduh merupakan ruang sharing bersama untuk mengkaji lebih teliti hal-hal yang terjadi pada saat ini, dari yang sedikit berbeda pendapat ataupun hal-ha
ISLAMtelah mengajarkan umatnya untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Meskipun orang tuanya telah meninggal dunia, anak seyogyanya mendoakan keselamatan bapak ibunya di alam kubur. Orang tua adalah malaikat bagi anak-anaknya. Mereka telah bersusah payah membesarkan anaknya, membanting-tulang, mempertaruhkan nyawa, hingga si anak tumbuh
Al-Qur’an dan hadits sering kali berpesan agar manusia berbakti dan menunjukkan adab yang baik kepada orang tuanya. Al-Qur’an menjelaskan, kedua orang tua bersusah payah sejak anak dalam kandungan dan berjasa dalam merawatnya sampai tumbuh dewasa. Tetapi orang tua juga dituntut untuk bersikap yang baik terhadap anaknya. Sayyid Abdullah Ba’alawi Al-Haddad dalam Kitab An-Nahsihud Diniyyah menganjurkan orang-orang tua untuk membantu anak mereka dalam berbakti kepadanya. Orang tua meski memiliki hak yang besar dianjurkan untuk lebih banyak memaafkan dan memberikan kemudahan bagi anak mereka agar anak-anak mereka tetap tergolong sebagai manusia yang berbakti kepada kedua orang tuanya. ويستحب للوالدين أن يعينوا أولادهم على برهم بالمسامحة وترك المضايقة في طلب القيام بالحقوق ومجانبة الاستقصاء في ذلك سيما في هذه الازمنة التي قل فيها البر والبارون وفشا فيها العقوق وكثر العاقون Artinya, "Orang-orang tua dianjurkan untuk membantu anak-anak mereka dalam berbakti kepada mereka dengan pemaafan, tidak membuat anak-anak cemas dengan menuntut kewajiban, dan menjauhi penyelidikan dalam masalah tersebut terlebih di zaman ini di mana sedikit sekali kebaktian dan anak-anak yang berkati kepada orang tua dan kedurhakaan mewabah, dan banyak orang-orang berbuat durhaka kepada orang tuanya," Sayyid Abdullah Ba’alawi Al-Haddad, Nashaihud Diniyyah, [Indonesia, Darul Kutub Al-Arabiyyah tanpa tahun], halaman 62. Manusia memang tidak selalu dapat memenuhi keinginan orang tuanya di samping anak juga memiliki hak individu yang berbeda pandangan dan sikap dengan pandangan serta sikap orang tua. Bahkan banyak manusia mengecewakan dan menyakiti hati orang tuanya. Tetapi orang tua yang bijak dan pemaaf akan mendapat ganjaran besar dari Allah SWT. Dengan kebijaksanaan dan sikap pemaaf, mereka dapat menyelamatkan anaknya dari dosa durhaka. فإذا فعل ذلك وسامح أولاده سلمهم وخلصهم من اثم العقوق مما يترتب عليه من عقوبات الدنيا والآخرة وحصل له من ثواب الله وكريم جزائه ما هو أفضل وأكمل وخير وأبقى من بر الأولاد وقد قال عليه الصلاة والسلام رحم الله والدا أعان ولده على بره Artinya, "Jika orang tua melakukan itu dan memberikan lebih banyak pemaafan kepada anak-anaknya, niscaya ia telah menyelamatkan dan membebaskan mereka dari dosa durhaka yang berdampak pada siksa dunia dan akhirat. Ia berhak mendapat pahala dan kemurahan ganjaran Allah yang lebih utama, sempurna, baik, dan lestari dibandingkan tindakan berbakti anak-anaknya. Rasulullah SAW bersabda, Semoga Allah menurunkan rahmat-Nya kepada orang tua yang membantu anaknya berbuat bakti kepada orang tua,’"Al-Haddad, tanpa tahun 62. Sayyid Abdullah Ba’alawi Al-Haddad berpesan kepada orang tua agar selalu mendoakan yang terbaik baik anaknya karena doa itu akan memberikan manfaat baginya dan bagi anak-anaknya. Sayyid Abdullah Al-Haddad berpesan agar orang tua menahan diri dari mendoakan keburukan bagi anaknya karena hal itu hanya akan menambah durhaka dan mudharat di dunia bagi anak dan bagi dirinya sendiri. Sementara doa orang tua adalah doa mustajabah. فينبغي له أن يدعو له ولا يدعو عليه فقد يصلحه الله ببركة دعائه فيعود بارا فينتفع الوالد ببره وتقر عينه به ويفوز الولد بثواب البر ويسلم من اثم العقوق Artinya, “Orang tua seyogianya mendoakan yang baik, bukan yang buruk bagi anak-anaknya. Dengan begitu, niscaya Allah memberikan kemasahatan bagi anak-anaknya berkat doanya sehingga mereka kembali berbakti dan orang tua mereka menerima manfaat atas kebaktian anaknya dan itu menyenangkan hatinya. Sedangkan anak-anaknya beruntung dengan pahala kebaktian dan selamat dari dosa kedurhakaan.” Al-Haddad, tanpa tahun 62. Orang tua selayaknya mengingat-ingat nasihat Sayyid Abdullah Ba’alawi Al-Haddad agar mereka dan anaknya tetap berada dalam kemaslahatan dan keridhaan Allah SWT di dunia dan di akhirat. Wallahu a’lam. Alhafiz Kurniawan
PortalMaduraCom - Orang tua mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap anak. Mendidik dan mengajarkan hal-hal baik merupakan kewajiban yang harus dilakukan. Langsung ke konten. Indeks Video. Beranda;
Dalam Islam, anak wajib berbakti kepada orang tua. Ada sederetan adab terhadap orang tua yang tertulis di Al-Qur’an dan hadis yang harus dipatuhi anak. Berbuat baik kepada orang tua adalah salah satu pintu masuk menuju bagaimana dengan adab orang tua terhadap anak? Walaupun anak tidak akan bisa membalas jasa orang tua yang tak terhitung jumlahnya, bukan berarti orang tua bisa berbuat apa saja terhadap anak. Dalam Islam juga diatur bagaimana adab orang tua yang baik terhadap Menasihati dengan cara yang baikilustrasi ibu menasihati anaknya PfennigAnak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan, mereka akan banyak berbuat kesalahan. Mereka mungkin tidak tahu atau terdorong nafsunya sehingga membuat khilaf. Ini adalah salah satu cara anak-anak belajar tentang benar dan anak berbuat salah, tugas orang tua untuk memberitahukan letak kesalahannya dan memberinya nasihat. Tidak perlu emosi atau marah saat menasihatinya, karena adab menasihati dalam Islam adalah dengan lemah lembut dan kata-kata yang baik. Allah bahkan menyuruh Nabi Musa untuk menasihati Fir’aun dengan lemah lembut, padahal Fir’aun adalah raja yang sangat zalim dan jelas kekafirannya. Hal ini tertulis dalam Al-Qur'an surat Thaha ayat 44 Hendaknya kalian berdua ucapkan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan ia akan ingat atau takut kepada Allah. 2. Bersikap lemah lembut dan tidak berbuat kasarilustrasi ayah memeluk anak perempuannya KrasnikovaTingkah laku anak-anak terkadang bisa sangat menguji kesabaran orang tua. Padahal orang tua juga manusia, yang bisa lelah, capek atau sakit. Saat anak sedang membuat ulah yang membuat hati kesal, ingat bahwa Islam melarang bersikap kasar kepada anak. Tetaplah sabar dan menjauhlah sebentar dari anak-anak untuk menenangkan diri, agar tidak terjadi kekerasan pada sebuah hadis dijelaskan bahwa Allah menyukai sikap lemah lembut dan akan memberikan ganjaran untuk orang yang bisa bersikap demikian. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda Hai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut. Dia mencintai sikap lemah lembut. Allah akan memberikan kepada sikap lemah lembut sesuatu yang tidak Dia berikan pada sikap yang keras, dan juga akan memberikan apa-apa yang tidak diberikan pada sikap lainnya.HR Muslim 3. Bersikap adililustrasi ayah bermain bersama dua anaknya Fairytale Mempunyai anak lebih dari satu, berarti harus siap membagi perhatian sama adilnya terhadap semua anak. Tidak boleh ada anak yang merasa diberikan kasih sayang dalam porsi yang berbeda dengan saudaranya. Rasulullah pun sudah menegaskan tentang pilih kasih ini dalam sebuah hadis. Beliau menegur salah seorang sahabatnya yang pilih kasih terhadap anak-anaknya. Dari Nu’man bin Basyir ra bahwasannya ayahnya datang membawanya menemui Rasulullah Saw, dia berkata, “Sungguh aku telah memberi pemberian berupa seorang hamba sahaya milikku kepada anakku ini.” Kemudian Rasulullah Saw berkata, “Apakah semua anakmu mendapat pemberian seperti anakmu ini?” Ayah An-Nu’man menjawab, tidak. maka Rasulullah Saw pun bertanya, “Apakah engkau senang apabila mereka anak-anakmu semuanya berbakti kepadamu dengan sama?” Lalu ayah An-Nu’man menjawab, “Aku mau wahai Rasulullah.” Lalu Rasulullah Saw bersabda “Kalau begitu, jangan kau lakukan pilih kasih.” HR. Muslim Baca Juga 5 Adab Ini Harus Dilakukan saat Bertengkar dengan Orang yang Lebih Tua 4. Bersabar dalam mendidikilustrasi ibu sedang menasihati anak satu kewajiban orang tua adalah mendidik anak-anaknya, terutama dalam hal agama. Mengajarkan salat, puasa dan berbagai kewajiban lainnya agar mereka terbiasa mengerjakan perintah-perintah Allah kelak ketika dewasa. Tapi proses mendidik ini tidak mudah dan lama, serta membutuhkan kesabaran. Jangan mudah menyerah jika anak belum tertarik untuk mengikuti apa yang diperintahkan, teruslah berdoa kepada Allah dan bersabar dalam ayat di Al-Qur’an yang menyuruh manusia untuk bersabar, salah satunya ada dalam Surat Al-Anfal ayat 46 Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar. 5. Tidak memaksakan kehendakilustrasi ayah dan anak beraktivitas bersama orang tua, terkadang merasa tahu apa yang terbaik untuk anak. Padahal anak juga manusia yang mempunyai keinginan sendiri. Selama keinginannya tidak bertentangan dengan syariat Islam, sebaiknya orang tua mendukungnya, sambil terus diberikan arahan dan masukan. Belajarlah mendengarkan keinginan anak dan jangan memaksakan keinginan hanya karena ambisi pribadi orang menegaskan bahwa orang tua tidak boleh memaksakan kehendak, misalnya dalam hal pernikahan, seperti yang disebutkan dalam hadis berikut Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan maka ayahnya harus meminta persetujuan dari dirinya. Dan persetujuannya adalah diamnya. HR. Muslim no. 1421, dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma Jadi bukan hanya anak yang punya aturan adab terhadap orang tua, tapi orang tua pun punya adab yang harus diperhatikan terhadap anak. Bagaimanapun orang tua adalah pemimpin bagi anaknya dan cara orang tua mendidik anak kelak akan dimintakan tanggung jawabnya oleh Allah. Dengan menjalankan adab-adab ini, tentunya kita berharap anak-anak dapat tumbuh menjadi orang yang berakhlak mulia. Baca Juga 5 Adab Mendaki Gunung, Jangan Langgar Pantangan! IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.
A AKHLAK TERHADAP ORANG TUA. Orang tua adalah perantara perwujudan kita. Kalaulah itu terjadi penaniayaan orang tua kepada anaknya adalah disebakan perbuatan si anak itu sendiri yang menyebabkan marah dan penganiayaan orang tua kepada anaknya. sehingga akhlakul karimah terhadap guru perlu di terapkan sebagaimana akhlak kita
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Pendidikan Agama Islam merupakan salah satu pelajaran yang pasti diberikan kepada peserta didik di Sekolah. Peranan penting telah diduduki oleh guru yang mengampu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Diantara tugas dan peran guru PAI adalah menyampaikan ilmu yang berdasarkan tuntunan agama Islam, mengajarkan tentang perilaku yang sesuai dengan pedoman agama Islam, yaitu Al—Qur’an dan Hadist, dan memberikan contoh atau teladan yang baik bagi peserta ini sudah banyak perguran tinggi yang meluluskan guru-guru PAI yang berkompetensi, dan siap disebarkan di seluruh penjuru negri. Peranan guru PAI yang telah disebutkan diatas tadi selalu menjadi momok tersendiri. Pasalnya guru PAI selalu dikaitkan dengan moral siswa. Beberakali kerap ditemui peristiwa yang mana dalam peristiwa itu seoalah memojokan dan menjatuhkan harga diri seorang guru PAI. Kasus kenakalan siswa seoalah hanya menjadi PR untuk guru PAI saja, contohnya seperti kasus bullying, tawuran, balap liar, dan krisis moral lainnya. Dengan adanya kasus kenakalan siswa banyak diaantaranya yang menanyakan “siapa guru PAImu?”, pertanyaan tersebuat seoalah-olah menyalahkan guru PAI yang tidak bisa mengajarkan perilaku yang baik, berbudi pekerti yang baik, dan adab sopan santun yang sesuai dengan norma. Padahal jika diperhatikan lebih dalam lagi, pendidikann moral pada anak tidak terlepas dari pendidian yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Jadi tidak sepantasnya guru PAI saja yang seolah disudutkan begitu saja, akan tetapi juga harus melihat bagaimana latarbelakang siswa dan pola pendidikan yang diberikan oleh orangtuanya. Salah satu faktor penyebab terjadinya kasus kenakalan siswa\remaja adalah faktor internal, yaitu faktor kepribadian dan keluarga. kepribadian remaja tercermin dalam kepribadian oraang tuanya. Sudah menjadi kewajiban orang tua memberikan teladan yang baik untuk anak-anaknya. Seperti halnya dijelaskan dalam hadist yang berarti “Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Amir bin Abdullah bin Al Zubair dari Amru bin Sulaim Al Zuraqi dari Abu Qatadah Al Ansari, bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah salat dengan menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Dan menurut riwayat Abu Al Ash bin Rabiah bin Abdu Syamsi, ia menyebutkan, jika sujud beliau letakkan anak itu dan bila berdiri beliau gendong lagi.” Bukhori.Dalam hadist tersebut dapat disimpulkan, bahwa sudah seharusnya orang tua mengajak dan mencontohkan perilaku yang baik, karena setiap pasti akan menirumu perilaku kedua orang tuanya. Peranan orang tua dalam pendidikan moral anak tidak hanya sampai disitu saja. Hanya memberikan contoh itu tidak cukup untuk anaknya. Tapi orang harus memberikan kasih sayang dan perhatian pada anak-anaknya. Orang tua juga harus memenuhi kewajiaban dan hak kepada anaknya. Dengan terpenuhinya kasih sayang, kewajiban dan hak orang tuanya, serta teladan yang baik dari orang tuanya akan memberikan rasa cukup pada jiwa sang anak. Sehingga anak akan berperilaku baik dan terhindar dari perbuatan-perbuatan yang kurang terpuji, seperti kasus kenakalan remaja yang merugikan diri anak tetapi tidak semua orang tua mampu memenuhi kebutuhan psikis dan rohaniah anak. Berdasarkan pengamatann, beberapa orang tua memiliki masalah dan kendala masing-masing. diantara kendala dan masalah tersebut adalah, sepasang suami istri yang bercerai sehingga berdampak pada anaknya, rendahnya perekonomian keluarga yang menyebabkan terhambatnya kebutuhan anak, kesibukan orang tua yang bekerja menyebabkan terbatasnya waktu untuk bermain atau sekedar mengobrol dengan anaknya. Hal demikianlah yang menyebabkan krisis identitas bagi sebagian remaja sehingga menyebabkan kenakalan-kenakalan yang mereka tunjunkkan pada lingkungan identitas dan krisis moral pada remaja atau siswa mennjadi perhatian besar bagi sekolah dan orang tua yang harus segera diselesaikan. Diantara upaya yang dilakukan untuk mengembalikan jatidiri remaja dan meperbaiki moral siswa, yang seharusnya dilakukan oleh orang tua adalah, membangun hubungan yang sehat dengan anak, meluangkan lebih banyak waktu dengan anak, memberikan perhatian yang cukup, memenuhi kebutuhan anak semampunya, dan memperbaiki pola asuh. Kemudian upaya sekolah dalam membantu orang tua untuk mengembalikan jatidiri remaja dan meperbaiki moral siswa adalah mengajarkan norma-norma agama saat berlangsungnya pelajaran, mengenali siswa dan memahami latarbelakang siswa sehingga tidak melabeli siswa “nakal”, menjembatani siswa dan orang tua untuk memperbaiki kedekatan psikis mereka, dengan mengadakan event-event yang bermanfaat seperti kajian\seminar parenting untuk orang tua dan hipnoterapi untuk siswa. Dengan demikian upaya-upaya tersebut dapat dilakukan kerjasama antar orangtua dengan sekolah, untuk mengurangi kenakalan siswa, memperbaiki moral siswa, dan memperbaiki krisis identitas pada siswa. Sehingga dapat membantu mewujudkan pendidikan yang berkualitas, dan sumber daya manusia yang bemanfaat. Lihat Pendidikan Selengkapnya
Sekalilagi, kasus HW itu perlu menjadi pelajaran berharga bagi pesantren dan bagi orang tua, agar benar-benar memahami tanggung jawab pendidikan anak-anaknya. Jika ia tidak sanggup mendidik sendiri, maka kewajiban orang tua adalah mencarikan guru yang baik bagi anak-anaknya. Wallahu A’lam bish-shawab. (Depok, 11 Januari 2022).
ADAB TERHADAP GURU DAN ORANG TUAADAB ORANG TUA TERHADAP GURU ANAKNYA Kata “adab” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti kehalusan, kesopanan, akhlak, atau bisa juga budi pekerti. Orang tua adalah bapak laki-laki beserta ibu perempuan yang menjadi perantara adanya diri kita di dunia ini. Semua manusia tentu dilahirkan melalui perantara keduanya ayah dan ibu , kecuali tiga orang. Tanpa keduanya ayah dan ibu, tentu saja keberadaan kita tidak akan ada di dunia ini. Islam sebagai agama yang sempurna tentu saja memiliki aturan-aturan umum tentang bagaimana akhlak atau sikap seorang anak terhadap orang tua nya masing-masing. Perintah untuk bersikap sopan santun, dan berakhlak mulia terhadap orang tua ini tentu saja banyak kita dapati dalam kitab al-Qur’an ataupun hadits. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” Beliau menjawab “ Berbakti kepada orang tua”, Kemudian aku bertanya “Dan apa lagi Nabiyyullah saw.?”. Dari keterangan hadits di atas, berbakti beradab kepada orang tua menempati urutan yang kedua. Hal ini membuktikan bahwa betapa penting dan mulianya akan beradab kepada orang tua tersebut. dalam surat al-Israa’ 17 ayat 13 dan 14 di atas, ada berbagai macam bentuk bagaimana adab seorang anak kepada orang tuanya. Dilarang untuk berkata “ah” atau “cis” kepada kedua orang tua kita masing-masing. Merendahkan diri di hadapan orang tua ibu-bapak dengan landasan sifat kasih dan sayang. Mempraktekkan adab kepada orang tua ini ketika sedang berada di sekolahan dapat dilakukan dengan cara Berusaha terus menerus istiqomah dalam menjaga nama baik diri sendiri dan orang tua. Ketika berada di lingkungan sekolah, maka berusaha menjadi siswa yang baik dan berdisiplin dalam mengerjakan tugas. Seorang anak yang memiliki adab kepada kedua orang tua nya, tentu saja dapat merasakan beberapa hal berikut ini Mengajar di sini maksudnya melatih, mendidik, dan memberikan suatu pelajaran tertentu. Tetapi, dalam perkembangan zaman atau pun ilmu pengetahuan yang baru komputer misalnya . Artinya, baik guru-guru itu masih aktif mengajar atau guru-gurunya yang sudah pensiun karena faktor usia. Berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik, sehingga tidak mengecewakan hati guru. Memperhatikan dengan baik dan benar materi ataupun pelajaran yang disampaikan oleh guru. Adapun simulasi dari adab kepada guru ini antara lain adalah sebagai berikut Pada suatu hari ketika Hasan siswa kelas 8 pulang ke rumah membonceng saudaranya, tiba-tiba di jalan ia melihat guru matematika-nya menuntun kendaraannya karena bocor. Kemudian Hasan pun turun, dan menyuruh saudaranya untuk pulang lebih dahulu, karena jarak rumahnya sudah tidak terlalu jauh lagi. Setelah itu Hasan pun menyapa guru Matematika-nya tersebut dan meminta kendaraan gurunya untuk dituntun sampai tempat tambal ban terdekat. Setelah itu Hasan pun menyapa guru Matematika-nya tersebut dan meminta kendaraan gurunya untuk dituntun sampai tempat tambal ban terdekat. Ratih pun diberikan izin guru bahasa Indonesia nya untuk mengambilkan spidol tersebut. Dengan kedekatan hubungan batin ini akan memberikan kemudahan dalam menerima materi pelajaran yang diberikan oleh guru kepada muridnya Membuat hati kita menjadi senang dan bahagia akan materi pelajaran yang disampaikan oleh guru Dari penjelasan mengenai adab kepada orang tua dan guru di atas, adalah Memiliki adab kepada orang tua dan guru adalah wajib hukumnya Adab kepada orang tua antara lain adalah tidak berkata ah’ kepada keduanya, tidak berbuat dan berkata kasar, rendah diri di hadapan keduanya, mendoakannya baik ketika masih hidup ataupun sudah meninggal dunia, dan lain-lainnya Sebutan guru adalah bagi siapa saja yang mampu memberikan pengertian, pembelajaran, pelatihan, atau suatu arahan dari suatu hal. Seorang teman atau pun saudara juga bisa menjadi guru dalam hal tertentu. Sehingga bisa menjadi pengamalan dari ayat al-Qur’an dan hadits yang tercantum di atas. ADAB TERHADAP GURU DAN ORANG TUA Allah Subhaanahu wa Ta’aala mewajibkan hamba-hamba-Nya untuk berbakti kepada kedua orang tua. Bahkan memposisikan bakti pada orang tua setelah tauhid kepada Allah SWT. Oleh karena itu setiap muslim harus memiliki adab yang baik dalam bergaul dengan orang tua. “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” Ada banyak cara yang bisa kamu lakukan untuk berbuat baik kepada keduanya, seperti beberapa hal ini Mendoakannya dari kejauhan semoga Allah beri pahala atas ilmu yang sudah ia ajarkan Mengambil manfaat dari kebaikan sang guru, dan tidak mencontohnya andai kata ia melakukan kekhilafan. Dengan rendah hati maka ilmu akan mudah masuk dalam diri murid ADAB ORANG TUA TERHADAP GURU ANAKNYA Gurusiana adalah paltform blogging yang dikhususkan untuk kalangan Guru, Dosen ataupun Pengajar Non Gelar Lainnya. Newsletter Want more stuff like this? Get the best viral stories straight into your inbox!
BACAJUGA: Pendidikan yang Mubazir. Di sinilah pentingnya keteladanan orang tua dalam mendidik anak sehingga orang tua tak hanya menyibukkan diri pada urusan pribadi saja. Selain memberi teladan sikap peduli terhadap umat, para orangtua harus memberikan contoh langsung semangat dan perjuangan menegakkan agama Allah. 2.
403 ERROR Request blocked. We can't connect to the server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error. Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation. Generated by cloudfront CloudFront Request ID AeCDNzDgrWXfevKa0jC5k0cCKX9TJSqJub3AQs-xECxg73hlocP5Qg==
Didikankeras dari orang tua itu sangat berpengaruh sekali terhadap perkembangan pemikiran seorang anak. Orang tua pastinya ingin anaknya menjadi yang terbaik, meskipun terkadang mereka mendidiknya dengan cara didikan keras. Sebagai anak tentunya harus bisa memahami apa kemauan dari orang tua. Orang tua pun harusnya bisa memahami kemauan
Bismillahirrahmanirrahim Dikisahkan, suatu saat Sultan Harun Ar-Rasyid mengirim salah satu putranya kepada Imam al-Ashma’i, salah satu imam dalam ilmu nahwu untuk belajar ilmu dan adab. Ketika mengunjungi putranya, Khalifah menyaksikan al-Ashma’i sedang berwudhu dan membasuh kaki beliau sedangkan putranya menuangkan air ke kaki sang guru. Melihat hal itu, Khalifah pun tidak menerima dan mengatakan kepada Imam al-Ashma’i, ”Sesungguhnya aku mengirim putraku pedamu agar engkau mengajarkan adab kepadanya. Kenapa engkau tidak memerintahkannya untuk menuangkan air dengan salah satu tangannya sedangkan tangan lainnya membersihkan kakimu?” Ini menunjukkan betapa terhormatnya guru atau orang yang berilmu. Sampai-sampai sekelas khalifah atau kepala negara masa itu harus mendatanginya untuk mendapatkan ilmu serta menasihati anak-anaknya untuk belajar dan menghormati guru. Sebagai orangtua, Harun Ar-Rasyid mempercayakan pendidikan anaknya kepada guru. Biaya yang dikeluarkan oleh beliau juga tak sedikit untuk memuliakan guru. Terlebih, guru juga diberi wewenang untuk mendidik anaknya sebagaimana anak-anak lain, tanpa harus sungkan karena mendidik anak khalifah. Contoh lain dari betapa adab orang tua terhadap guru sang anak memberikan dampak terhadap keberkahan ilmu anak adalah saat orang tua dari Sultan Muhammad Al-Fatih menyerahkan putranya kepada salah seorang ulama untuk dididik olehnya, Ayah Muhammad Al Fatih menyerahkan seutuhnya pendidikan tersebut kepada sang guru. Bahkan sang Ayah tidak sungkan untuk meminta guru Al Fatih untuk memukul Al Fatih kecil jika melakukan kesalahan atau tidak menurut saat diajarinya. Ini adalah bentuk kepasrahan orang tua terhadap guru dalam mendidik anak, mempercayakan pendidikan anak kepada guru, selagi guru itu takut kepada Allah. Ayah bunda, keberkahan ilmu anak bukan hanya ditentukan oleh penghormatan anak terhadap gurunya dan penghormatan kepada sumber ilmu. Tapi adab orang tua kepada guru sang anak juga sangat menentukan keberkahan ilmu sang anak sendiri. Suatu renungan bagi kita para orang tua, ketika mendapati anak-anak kita mengalami kesulitan dalam pembelajaran. Bisa jadi kesulitan tersebut bukan karena ketidak mampuan anak-anak kita dalam hal belajar. Tapi ada sikap atau adab kita sebagai orang tua terhadap guru anak kita yang menutup cahaya keberkahan ilmu anak kita. Semoga kita sebagai orang tua bisa menjaga adab anak-anak dan adab orang tua sendiri terhadap gurunya, jangan sampai gara-gara adab orang tua buruk, sedangkan adab anak sudah baik, maka si anak menjadi siswa yang ilmunya tidak barokah karena ketidak Ridhoan guru. Dan semoga karena orang tua dan anak telah menjaga adab kepada guru anaknya membuat kita semua dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala. DISCLAIMER Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini. Laporkan Penyalahgunaan
AlQur’an dan hadis sering kali berpesan agar manusia berbakti dan menunjukkan adab yang baik kepada orang tuanya. Akan tetapi orang tua juga dituntut untuk bersikap yang baik terhadap anaknya. Baca juga: Mengajak Anak Berlatih dan Belajar Puasa Sayyid Abdullah Ba’alawi Al-Haddad dalam Kitab An-Nahsihud Diniyyah menganjurkan orang-orang tua untuk
Peran orang tua dalam membesarkan seorang anak begitu besar dan itulah mengapa kita harus menghormati mereka. Orangtua dan guru tak lepas mengemban tanggung jawab mereka dalam membesarkan dan mendidik anak maupun tua kita menjadi guru pertama yang mengajarkan banyak hal tentang dunia sejak kita lahir. Dan guru di sekolah meneruskan kewajiban untuk mendidik di lingkungan sekolah. Berkat jasa-jasa mereka, seorang anak perlu memahami adab dan sopan santun terhadap orang tua dan guru sebagai bentuk terima Adab terhadap Orang TuaDalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata adab’ memiliki arti akhlak, budi pekerti, kesopanan, atau tutur halus. Sedangkan orang tua ialah ayah laki-laki dan ibu perempuan yang menjadikan kita ada saat ini. Maka dapat disimpulkan bahwa adab terhadap orang tua artinya bagaimana cara seorang anak agar memiliki akhlak dan budi pekerti yang baik kepada orang untuk berakhlak mulia dan bersikap baik terhadap orang tua diterangkan dalam kitab suci Alquran dan hadits. Salah satunya yaitu۞وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡٔٗاۖ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗا ….. ٣٦“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang tuamu ibu - bapak, …. ” QS. an-Nisaa’ 36Ada berbagai macam cara yang merupakan adab terhadap orang tua bagi seorang anak, antara lain sebagai berikutTidak berkata kasar, membentak apalagi berbicara sesuatu yang menyakiti hati orang tuaDilarang mengguakan kata ah’ atau cih’ ketika berbicara dengan orangtuaBerbicara dengan tutur kata yang lemah lembut, halus dan sopanMerendahkan diri di depan orang tua dengan maksud menunjukkan kasih sayang kita sebagai anak kepada merekaSelalu mendoakan untuk kebaikan mereka. Berikut doa yang bisa dipanjatkan untuk kedua orang tua “Wahai Rabb-ku, kasihanilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka telah menyayangiku dan mendidikku semenjak aku masih kecil”Belajar dengan giat agar dapat membanggakan kedua orang tua sebagai bentuk terima kasih kita karena telah dibesarkan hingga saat anak yang telah menerapkan adab terhadap orangtua dengan baik dan benar pasti mendapatkan berkah selama hidup. Selain itu, seorang anak akan merasakan ridha dari orang tua karena telah memberikan ketenangan kepada mereka dengan menjadi anak yang baik. Dengan adab yang baik juga hubungan antara seorang anak dan orang tua menjadi lebih baik dan erat. afifahrahma
Spoilerfor Kesimpulan: Orang tua adalah orang yang bertanggung jawab penuh atas anaknya. Berhasil atau tidaknya seorang anak tentu ada peran orang tua yang mendidik dan membesarkan dari kecil hingga dewasa, karena seorang anak terlahir ibarat kertas kosong, tergantung apa yang akan ditulis dalam kertas kosong tersebut.
MENURUT Imam Al-Ghazali sebagaimana disebutkan dalam kitabnya berjudul Al-Adab fid Din Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 444 setidaknya ada lima 5 adab orang tua terhadap anak-anaknya sebagai berikut“Adab orangtua terhadap anak, yakni membantu mereka berbuat baik kepada orang tua; tidak memaksa mereka berbuat kebaikan melebihi batas kemampuannya; tidak memaksakan kehendak kepada mereka di saat susah; tidak menghalangi mereka berbuat taat kepada Allah SWT; tidak membuat mereka sengsara disebabkan pendidikan yang salah.” BACA JUGA Suami-Istri, Perhatikan Adab-adab Ini di Tempat Tidur Dari kutipan di atas dapat diuraikan kelima adab orang tua kepada anak-anaknya sebagai berikut Pertama, membantu anak-anak bersikap baik kepadanya Sikap anak kepada orang tua sangat dipengaruhi sikap orang tua kepada mereka. Jika orang tua sayang kepada anak-anak, mereka tentu akan membalas dengan kebaikan yang sama. Tidak mungkin anak-anak bersikap baik kepada orang tua, jika mereka diperlakukan semena-mena. Oleh karena itu ketika orang tua bersikap baik kepada anak-anaknya, sesungguhnya orang tua telah mendidik dan membantu anak-anaknya menjadi anak yang baik pula. Kedua, tidak memaksa anak-anak berbuat baik melebihi batas kemampuannya Orang tua perlu memahami psikologi perkembangan agar anak-anak dapat menjalani kehidupannya sesuai dengan fase-fase perkembangannya. Tidak bijak apabila anak-anak yang masih duduk di bangku TK sudah diperintahkan berpuasa sehari penuh selama Ramadhan. Mereka memang perlu dilatih berpuasa tetapi tidak boleh seberat itu. Demikian pula tidak bijak apa bila orang tua memaksakan kehendaknya agar mereka selalu menduduki ranking 1 di kelasnya, misalnya, sementara kemampuannya kurang mendukung. Ketiga, tidak memaksa anak-anak saat susah Sebagaimana orang dewasa, anak-anak juga bisa merasakan susah, misalnya karena kehilangan sesuatu yang menjadi kesayangannya seperti binatang kesayangan atau lainnya. Pada saat seperti ini orang tua sebaiknya dapat memahmi psikologi anak dengan tidak menambahi bebannya. Misalnya, orang tua melakukan perintah-perintah yang banyak dan berat sehingga menambah beban anak. Justru sebaiknya orang dapat menghibur dan membesarkan hati anaknya bahwa Allah akan mengganti apa yang hilang dari anak itu dengan sesuatu yang lebih baik. Keempat, tidak menghalangi anak-anak untuk berbuat taat kepada Allah SWT Tidak sebaiknya orang tua menghalangi anak-anak ketika mereka bermaksud melakukan ketaatan kepada Allah SWT, misalnya, berlatih puasa sunnah Senin-Kamis. Tetapi memang orang tua perlu memberi arahan untuk tidak berpuasa dahulu, misalnya, ketika kondisi anak sedang sakit. Orang tua perlu menjelaskan bahwa beberapa orang diperbolehkan tidak berpuasa, misalnya orang-orang yang sedang sakit, atau seorang ibu yang sedang menyusui anaknya yang masih kecil. Untuk puasa Ramadhan memang harus diganti apabila ditinggalkan, edang puasa sunnah tidak harus diganti. Kelima, tidak membuat anak-anak sengsara disebabkan pendidikan yang salah Adalah kewajiban orang tua mendidik anak dengan sebaik-baiknya sehingga anak memiliki ilmu yang cukup dan ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan. Apabila orang tua tidak cukup membekali anak dengan ilmu dan ketrampilan yang diperlukan dan malahan memanjakannya, maka hal ini bisa menyengsarakan anak di kemudian hari. Anak bisa bodoh dan tidak mandiri dalam banyak hal sehingga tidak bisa menolong dirinya sendiri apalagi orang lain. Keadaan seperti ini akan membuat anak sengsara dalam hidupnya. BACA JUGA 8 Adab Ketika Bangun Tidur 2-habis Singkatnya kelima hal di atas, yakni mengkondisikan anak sanggup dan mampu berbuat baik kepada orang tua, menghargai prestasi anak dalam meraih hal yang baik sesuai batas kemampuannya, mengerti perasaan anak ketika mereka sedang susah, mendukung anak untuk berbuat ketaatan kepada Allah SWT, dan membuat anak mampu hidup bahagia dengan pendidikan yang benar, merupakan adab atau etika minimal yang perlu dilakukan setiap orang tua kepada anak-anaknya. Demikianlah Imam Al-Ghazali memberikan resep kepada kita untuk menjadi orang tua yang baik. []
DalamIslam juga diatur bagaimana adab orang tua yang baik terhadap anak. 1. Menasihati dengan cara yang baik ilustrasi ibu menasihati anaknya ( Pfennig) Anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan, mereka akan banyak berbuat kesalahan. Mereka mungkin tidak tahu atau terdorong nafsunya sehingga membuat khilaf.
Orang tua sesunguhnya tidak bebas berbuat apa saja kepada anak-anaknya. Ada adab atau etika tertentu yang harus diperhatikan para orang tua sehubungan adanya kewajiban anak-anak berbakti kepada mereka. Menurut Imam Al-Ghazali sebagaimana disebutkan dalam kitabnya berjudul Al-Adab fid Din Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 444 setidaknya ada lima 5 adab orang tua terhadap anak-anaknya sebagai berikut أداب الوالد مع أولاده يعينهم على بره، ولا يكلفهم من البر فوق طاقتهم، ولا يلح عليهم في وقت ضجرهم ولا يمنعهم من طاعة ربهم، ولا يمن عليهم بتربيتهم. Artinya “Adab orang tua terhadap anak, yakni membantu mereka berbuat baik kepada orang tua; tidak memaksa mereka berbuat kebaikan melebihi batas kemampuannya; tidak memaksakan kehendak kepada mereka di saat susah; tidak menghalangi mereka berbuat taat kepada Allah SWT; tidak membuat mereka sengsara disebabkan pendidikan yang salah.” Baca juga Anak Wajib Menafkahi Orang TuaDari kutipan di atas dapat diuraikan kelima adab orang tua kepada anak-anaknya sebagai berikutPertama, membantu anak-anak bersikap baik kepadanya. Sikap anak kepada orang tua sangat dipengaruhi sikap orang tua kepada mereka. Jika orang tua sayang kepada anak-anak, mereka tentu akan membalas dengan kebaikan yang sama. Tidak mungkin anak-anak bersikap baik kepada orang tua, jika mereka diperlakukan semena-mena. Oleh karena itu ketika orang tua bersikap baik kepada anak-anaknya, sesungguhnya orang tua telah mendidik dan membantu anak-anaknya menjadi anak yang baik pula. Kedua, tidak memaksa anak-anak berbuat baik melebihi batas kemampuannya. Orang tua perlu memahami psikologi perkembangan agar anak-anak dapat menjalani kehidupannya sesuai dengan fase-fase perkembangannya. Tidak bijak apabila anak-anak yang masih duduk di bangku TK sudah diperintahkan berpuasa sehari penuh selama Ramadhan. Mereka memang perlu dilatih berpuasa tetapi tidak boleh seberat itu. Demikian pula tidak bijak apa bila orang tua memaksakan kehendaknya agar mereka selalu menduduki ranking 1 di kelasnya, misalnya, sementara kemampuannya kurang mendukung. Ketiga, tidak memaksa anak-anak saat susah. Sebagaimana orang dewasa, anak-anak juga bisa merasakan susah, misalnya karena kehilangan sesuatu yang menjadi kesayangannya seperti binatang kesayangan atau lainnya. Pada saat seperti ini orang tua sebaiknya dapat memahmi psikologi anak dengan tidak menambahi bebannya. Misalnya, orang tua melakukan perintah-perintah yang banyak dan berat sehingga menambah beban anak. Justru sebaiknya orang dapat menghibur dan membesarkan hati anaknya bahwa Allah akan mengganti apa yang hilang dari anak itu dengan sesuatu yang lebih baik. Keempat, tidak menghalangi anak-anak untuk berbuat taat kepada Allah SWT. Tidak sebaiknya orang tua menghalangi anak-anak ketika mereka bermaksud melakukan ketaatan kepada Allah SWT, misalnya, berlatih puasa sunnah Senin-Kamis. Tetapi memang orang tua perlu memberi arahan untuk tidak berpuasa dahulu, misalnya, ketika kondisi anak sedang sakit. Orang tua perlu menjelaskan bahwa beberapa orang diperbolehkan tidak berpuasa, misalnya orang-orang yang sedang sakit, atau seorang ibu yang sedang menyusui anaknya yang masih kecil. Untuk puasa Ramadhan memang harus diganti apabila ditinggalkan, edang puasa sunnah tidak harus diganti. Kelima, tidak membuat anak-anak sengsara disebabkan pendidikan yang salah. Adalah kewajiban orang tua mendidik anak dengan sebaik-baiknya sehingga anak memiliki ilmu yang cukup dan ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan. Apabila orang tua tidak cukup membekali anak dengan ilmu dan ketrampilan yang diperlukan dan malahan memanjakannya, maka hal ini bisa menyengsarakan anak di kemudian hari. Anak bisa bodoh dan tidak mandiri dalam banyak hal sehingga tidak bisa menolong dirinya sendiri apalagi orang lain. Keadaan seperti ini akan membuat anak sengsara dalam hidupnya. Singkatnya kelima hal di atas, yakni mengkondisikan anak sanggup dan mampu berbuat baik kepada orang tua, menghargai prestasi anak dalam meraih hal yang baik sesuai batas kemampuannya, mengerti perasaan anak ketika mereka sedang susah, mendukung anak untuk berbuat ketaatan kepada Allah SWT, dan membuat anak mampu hidup bahagia dengan pendidikan yang benar, merupakan adab atau etika minimal yang perlu dilakukan setiap orang tua kepada anak-anaknya. Demikianlah Imam Al-Ghazali memberikan resep kepada kita untuk menjadi orang tua yang baik. Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama UNU Surakarta